Sabtu, 09 Juli 2011

Lupa, awal dari demensia



Ilustrasi (BBC News)
Berapa usia Anda saat ini? Apakah baru menginjak 30 tahun tetapi sudah sering melupakan sesuatu? Lupa merupakan hal yang wajar, apalagi jika seseorang sedang berada dalam tekanan atau stres. Namun, sering lupa juga bisa menjadi pertanda Anda mengidap penyakit.
Demensia, istilah digunakan untuk menjelaskan penurunan fungsional yang disebabkan oleh kelainan yang terjadi pada otak. Pikun merupakan gejala umum demensia, walaupun pikun itu sendiri belum berarti indikasi terjadinya demensia.
Raul Sibarani, spesialis syaraf dari Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi mengatakan demensia muncul dari hasil interaksi yang kompleks antara gen, faktor gaya hidup, dan pengaruh lingkungan lainnya.
“Faktor risiko antara lain usia, genetik atau riwayat keluarga, merokok, minum alkohol, ateroskelerosis, diabetes, homosistein, dan down syndrom. Demensia biasanya mempengaruhi orangtua, tetapi banyak kasus kini hadir lebih muda,” ujarnya, baru-baru ini.
Ada banyak penyakit yang menyebabkan terjadinya demensia, dua yang paling umum adalah demensia alzheimer dan demensia vaskuler.
Demensia pada alzheimer dikategorikan sebagai simtoma degeneratif otak yang progresif. Mengingat beban yang ditimbulkan penyakit ini, masyarakat perlu mewaspadai gangguan perilaku dan psikologik penderita demensia alzheimer.
Pada demensia vaskuler, penderita mengalami gangguan minor terhadap orientasi tempat, waktu dan ingatan pada 3 tahun pertama, disebut MCI (mild cognitive impairment) dengan penurunan ketebalan dan volume otak di korteks entorinal, hipokampus dan girus supramarginal.
“Demensia alzheimer dan vaskuler pemicunya berbeda. alzheimer ada faktor gen, sementara vaskuler bisa diperoleh dari gaya hidup yang kurang sehat sehingga terjadi penyumbatan di bagian otak manapun, sementara alzhaimer di otak samping lebih ke belakang,” ujarnya.
Pada kebanyakan orang demensia alzheimer muncul setelah usia 60 tahun, tetapi ada beberapa bentuk awal dari penyakit biasanya berhubungan dengan cacat gen tertentu yang muncul pada awal usia 30 tahun.
Terjadinya demensia pada usia lebih muda biasanya cukup lambat, baru setelah usia 65 tahun, kemungkinan demensia berkembang hingga dua kali lipat setiap tahunnya. Demensia juga bisa terjadi pada anak.
Alzheimer’s Disease International memperkirakan ada 35,6 juta orang yang hidup dengan demensia di seluruh dunia pada 2010. Jumlah tersebut diprediksi meningkat menjadi 65,7 juta pada 2030 dan 115,4 juta pada 2050.
Hampir dua pertiga penderita ini ternyata tinggal di negara berpenghasilan rendah atau menengah. Di Indonesia, terdapat 606.000 penderita demensia pada 2005 dan diprediksi akan meningkat menjadi 1 juta penderita pada 2020.
Deteksi dini
Raul menambahkan demensia jangan dikhawatirkan, dengan deteksi dini, seseorang yang memiliki potensi besar menjadi penderita bisa melakukan pengendalian sedini mungkin.
Sebagai gambaran, ketika dilakukan deteksi dini pada usia 30 tahun, ternyata orang tersebut sudah memiliki kencenderungan menderita demensia alzheimer, terlihat dari kondisi otak samping belakangnya.
Berdasarkan perhitungan kemungkinan demensia alzheimer mulai terlihat pada usia 60 tahun, dengan pengobatan dan terapi, keluarnya bisa ditunda atau diperlambat. Ada juga gerakan senam otak yang bisa dilakukan semua orang untuk mempertahankan ingatan.
Hendra Budiawan, pakar kedokteran nuklir mengatakan ada tiga pilihan yang dapat dilakukan untuk melakukan deteksi dini demensia, yaitu EEG (brain mapping), MRI-MRA kepala (magnetic resonance imaging-angiography), dan PET (positron emission tomography) CT scan kepala.
“PET CT scan kepala merupakan metode deteksi terbaru, pemeriksaan gambar yang bisa memperlihatkan kelainan fungsional sel-sel otak yang tidak dapat dideteksi dengan MRI,” ujarnya.
PET scan memungkinkan dilakukannya penelitian metabolisme glukosa pada otak, khususnya patien demetial (pikun) dan epilepsi. Metode ini juga dapat mendeteksi tumor otak dan parkinson.
Hendra menambahkan seseorang yang sudah terkena demensia sebaiknya tetap diajak untuk mengikuti dan menghadiri kegiatan sosial untuk mempertahankan kondisinya, jangan sampai mereka terus sendiri karena akan memperparah.

0 komentar:

Posting Komentar